Our Lady Star of the Sea (Indonesian Chapel)

The idea of Mary as a guiding star for seafarers has led to devotion to Our Lady, Star of the Sea in many Catholic coastal and fishing communities. Numerous churches, schools and colleges are dedicated to Stella Maris, Our Lady Star of the Sea, or Mary, Star of the Sea.

Our Lady, Star of the Sea

Our Lady, Star of the Sea, is one of the oldest titles attributed to the Blessed Virgin Mary, mother of Jesus. As early as the year 420 the great biblical scholar Saint Jerome, in commenting on the famous Old Testament verses spoken on Mt Carmel from the First Book of Kings (1Kings 18:41-45), believed that they could been understood symbolically to represent the Virgin Mary as "a dew that appears on the sea as a sign of hope for liberation and renewal".

Throughout human history the stars have been used in navigation, to lead one to safety or even to a new life. Even during Jesus' time on this earth, Mary’s name in Aramaic was interpreted as guide, leader or captain, in other words, someone who can use the stars to guide people to safety on the sea or in the desert. It is not surprising then that from the very beginning of the Church the Virgin Mary has been understood as being for all the people on earth a shining guide for her son, our Lord.

The title "Star of the Sea" is a translation from the Latin "Stella Maris", a title dedicated to the Virgin Mary in the ninth century. This name is used to emphasize the role of Mary as a sign of hope and a guiding star for mankind. Mary is also believed to play a role as a guardian of the people who travel, for those who work at sea, for fishermen and also the protector of people in desperation.

St. Bernard of Clairvaux (1091-1153) wrote a deeply meaningful reflection on this title.

"Mary is the noble star from Jacob, whose ray illumines the whole universe, whose splendour

shines out for all to see in heaven, reaches even unto hell, spreads out over the earth, and by warming souls more than bodies increases virtues and puts an end to vices. Mary is the shining star that glitters over this immense sea of darkness and is resplendent with merits, and all aglow with examples for our imitation.

You who find yourselves in the turbulence of this sea, cast about between the billowing waves and tempests without finding land on which to set your feet, do not take your eyes away from the refulgence of this Star unless you want to be drowned by the waves.

If you are immersed in the winds of temptation or hurled against the reef of tribulations, look at the Star and call upon Mary. If you are overcome by the waves of pride or ambition, slander, and hatred, look at the star, call upon Mary. When wrath or avarice, or the enticements of the senses are shaking the ship of your soul, look at the Star and call upon Mary. In danger, anguish, or doubt, think of Mary and call upon her, you will never sink into despair.

Let the name of Mary never be far from your lips or heart. And to obtain the fruit of her prayers, do not forget the example of her life. Following Mary, you will never lose your way. Praying to her you will never sink into despair. Contemplating Mary, you will never go wrong. With Mary’s support, you will never fall. Beneath her protection, you will never fear.”

This chapel was built from good intentions, prayers and donations from generous benefactors, especially Indonesian Catholic families in Brisbane and the Gold Coast. The statue and gazebo were made in Indonesia and the shrine was inaugurated on November 24, 2012. It is dedicated to invoke God’s help through Our Lady Star of the Sea for the protection of His people especially those from Indonesia, a country surrounded by seas and vast oceans. As travellers and pilgrims, the people of Indonesia are not spared from the brunt of the waves and storms of life. In honouring Mother Mary and seeking God’s abundant graces, we ask her prayers for us her children to always be protected from danger. The ICF (Indonesian Catholic Family) is pleased to build and present this Chapel of Our Lady Star of the Sea at Marian Valley.

Hail, Queen of heaven, the ocean star,
Guide of the wanderer here below;
Thrown on life’s surge, we claim thy care:
Save us from peril and from woe.
Mother of Christ, Star of the Sea,
Pray for the wanderer, pray for me.

Bunda Maria Bintang Laut

Bunda Maria, Bintang Laut, merupakan salah satu gelar tertua yang ditujukan untuk Bunda Maria, ibu Yesus. Pada awal tahun 420 Santo Hieronimus, dalam mengomentari ayat-ayat Perjanjian Lama yang diucapkan di Ganung Karmel dari Kitab Pertama Raja-raja (1 Raja-raja 18L41-45), percaya isinya bisa diartikan sebagai sebuah simbol bagi Maria sebagai “embun yang muncul di laut sebagai tanda pengharapan bagi pembebasan dan pembaharuan”.

Sepanjang sejarah manusia, bintang telah digunakan sebagai nabigasi, untuk memimpin manusia menuju keselamatan atau bahkan untuk hidup baru. Bahkan selama masa hidup Yesus di bumi ini, nama Maria dalam bahasa Aram ditafsirkan sebagai panduan, pemimpin atau nahkoda, seseorang yang bisa membimbing orang ke tempat yang aman di laut atau di padang pasir. Tidaklah mengherankan bahwa sejak awal Gereja, Perawan Maria telah dikenal bagi semua orang di bumi sebagai panduan terang untuk putranya, Tuhan kita.

Gelar “Bintang Laut” merupakan terjemahan dari bahasa Latin “Stella Maris”, sebutan yang didedikasikan untuk Perawan Maria pada abad kesembilan. Nama ini digunakan untuk menekankan peran Maria sebagai tanda harapan dan bintang pembimbing bagi umat manusia. Maria juga diyakini berperan sebagai wali dari orang-orang yang melukukan perjalanan, bagi mereka yang bekerja di laut, bagi para nelayan dan juga pelindung orang yang putus asa.

Santo Bernard dari Claivaux menuliskan permenungan yang sangat bermakna tentang Maria Bintang Laut: “Maria adalah bintang mulia dari Yakob, yang cahayanya menerangi seluruh semesta, yang memancar ke seluruh jagad raya menembus ke surga bahkan terpancar ke neraka, menerangi bumi dan dengan menghangatkan jiwa meningkatkan keutamaan dan melenyapkan kejahatan. Maria adalah bintang cemerlang yang menerangi kegelapan yang pekat di lautan kehidupan ini, Dia penuh keutamaan dan teladan hidup untuk kita teladani.

Engkau yang menemukan dirimu dalam goncangan lautan yang luas dan berbahaya, yang menerjangmu dari dua arah badai yang ganas, sehingga tidak dapat menemukan tempat berpijak, janganlah jauhkan pandanganmu dari pertolongan cahaya cemerlang dari Ratu Bintang Laut kalau engkau tidak mau ditenggelamkan oleh badai lautan yang ganas.

Jika engkau terperangkap dalam goncangan angin pencobaan atau merasa ditinggalkan dalam frustrasi yang hebat, berhadapan dengan persoalan dunia ini, pandanglah Bintang Lautan dan sebut nama Maria. Jika hidupmu dikuasai oleh kesombongan dan iri hati atau ambisi atau kebencian, lihatlah bintang dan serukan nama Maria. Dalam bahaya, kemarahan, atau keraguan, ingatlah Maria dan sebutkan namanya, maka engkau tidak akan tenggelam dalam keputusasaan.

Biarlah nama Maria tidak jauh dari bibir dan hatimu. Dan untuk menerima buah-buah dari doamu, janganlah melupakan teladan hidupnya. Dengan mengikuti Maria, engkau tidak akan kehilangan arah jalan kehidupan. Berdoalah kepadanya agar engkau tidak tenggelam dalam keputusasaan. Dengan kontemplasi bersama Maria engkau tidak akan jatuh pada kesalahan. Dengan pertolongan Bunda Maria, engkau tidak akan jatuh. Di dalam perlindungannya, engkau tidak akan takut.”

Kapal ini dibangun dari niat yang baik, dia dan sumbangan dari para dermawan terutama keluarga Katolik Indonesia di Brisbane dan Gold Coast. Patung dan gazebo dibuat di Indonesia dan kapel ini diresmikan pada tanggal 24 November 2012. Kapel ini didedikasikan untuk memohon pertolongan Allah melalui Bunda Maria Bintang Laut untuk melindungi umat-Nya terutama yang berasal dari Indonesia, negara yang dikelilingi oleh lautan dan samudera yang luas. Sebagai petualang dan peziarah, masyarakat Indonesia tidak luput dari terjangan gelombang dan badai kehidupan. Dalam menghormati Bunda Maria dan meminta rahmat Allah yang berlimpah, kami meminta doanya untuk kami anak-anaknya untuk selalu dilindungi dari bahaya. ICF (Indonesian Catholic Family) dengan bangga mendirikan Kapel Bunda Maria Bintag Laut di Marian Valley.

Salam, Ratu surga, bintang laut,
Panduan para petualang;
Dilempar dalam gelombang kehidupan,
Kami mohon diselamatkan dari bahaya dan dari duka.
Dunda Kristus, bintang laut,
Berdoalah untuk para petualang, doakanlah saya.

Return to the list of Shrine Chapels or the Map of Shrine Chapels.